Old-print photography – Saltprint, Cyanotype dan Vandyke

Kisah ini dimulai waktu beberapa bulan yang lalu (agak telat banget sih update blognya), waktu para penggiat alternative photography di seluruh dunia merayakan kegiatan tahun-an yang dinamakan “Pinhole Day” atau Hari Lubang Jarum, begitu juga dengan Komunitas Lubang Jarum Indonesia.

Ada yang menarik di acara tahun ini, tahu kenapa ? karena, kegiatan yang di laksanakan di daerah Pondok Indah ini tidak hanya workshop dan hunting dengan Kamera Lubang Jarum saja, ada pula workshop old-print photograph yang di antaranya Saltprint, Van Dyke dan Cyanotype. Berhubung saya belum pernah mencoba nya maka inilah kesempatan saya untuk mempelajarinya. Dan inilah ilmu yang saya dapatkan pada hari itu :

Old-print photograph ?
Old-print photograph pun termasuk dalam kategori alternative-photography, yaitu seni grafis yang menitik beratkan pencetakan zaman dulu pada prosesnya dan biasanya di terapkan pada kertas fancy yang telah di olesi cairan emulsi yang sebelumnya kita racik sendiri.
Apa itu Salt-print, Van Dyke dan Cyanotype ?
My First Salt-print – Exposure: 20 minute
Salt-print, dari kata “salt” mungkin kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tekhnik ini menggunakan senyawa garam pada pembuatan emulsi nya.. yup, memang benar untuk salt-print biasanya kita menggunakan bahan-bahan kimia seperti Sodium Klorida, Perak Nitrat dan sodium tiosulfat dan opsional untuk mempertajam gambar di tambahkan Emas Klorida. (terdengar asing kan ya ? sama :D)
My First Cyanotype – Exposure: 40 minute
Cyanotype pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Inggris bernama Sir John Herchel pada tahun 1842. Selain itu, beliau juga yang menemukan fixer untuk penetap gambar pada proses cuci foto. Sesuai dengan namanya “Cyan” atau kebiru-biruan tekhnik ini lebih di kenal dengan “blue print”.
Bahan-bahan kimia yang di gunakan untuk membuat chemicalnya yaitu Potassium Ferricyanida, Ferric Amonium Citrate dan Aquades.
My First Vandyke – Exposure: 40 minute
Vandyke di patenkan oleh W.W.J. Nicol, setahu saya beliau bukan yang pertama kali menemukan proses old-print yang menawarkan sensasi coklat atau sepia pada hasil yang di dapatkannya ini. Hanya saja beliau lah yang bisa di katakan menyempurnakan proses ini. Untuk bahan-bahan kimia yang di perlukan untuk membuat chemical ini yaitu Ferric Ammonium Sitrat, Asam Tartaric, dan Silver Nitrat dengan perbandingan 1:1:4 (Itu yang saya ingat)
Proses pengambilan gambar ?

Pertama, oleskan salah satu chemical nya (Saltprint, cyanotype maupun vandyke) pada sebuah kertas dengan menggunakan kuas dan keringkan, lalu tempelkan di bawah negatif film yang ingin di cetak, dan lalu tempelkan di antara papan dan kaca, dan jepit sekenceng-kencengnya untuk menghindari pergeseran.

Tahap selanjutnya, jemur di bawah sinar matahari kira-kira 20-40 menit dan untuk salt-print biasanya lebih cepat di banding dengan yang lain. proses ini di lakukan agar chemical yang telah kita oles-olesi tadi cepat bereaksi.
Setelah gambar pada negatif film tersebut tercetak di kertas, baru deh masuk ke tahap fixing.

Dari Saltprint, vandyke maupun cyanotype, hampir sama semua dari segi tekhnik, hanya saja yang berbeda cairan chemical dan masa expose nya saja.

*Note : Ketiga proses old-print ini tidak hanya dapat di cetak di kertas, bisa juga di atas sebuah papan, keramik, kain maupun batu.

Mungkin itu saja yang bisa saya bagi hari ini, semoga bermanfaat. Salam pendidikan – Salam 5 Jari ^,^

Sesi Foto Bersama

6 comments On Old-print photography – Saltprint, Cyanotype dan Vandyke

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.