Sebuah renungan dan untuk apa semua ini

Dua tahun lebih, saya berkecimplung di dunia fotografi atau lebih tepatnya alternatif fotografi. Karena, Sampai saat ini saya tidak terlalu minat dengan dunia fotografi digital dan tentunya itu membuat saya selalu mikir berulang kali kalo terbesat keinginan untuk membeli kamera dslr. Untuk apa? Pekerjaan utama saya bukan fotografer yang selalu mendapatkan uang dari job motret dan yang pasti adalah harga kamera dslr yang cukup “MAHAL” untuk ukuran programmer lulusan SMK yang selalu di kejar deadline tiap minggu seperti saya ini. Beruntung saya bisa bertemu dengan orang hebat seperti Ray Bachtiar Dradjat yang pada saat itu bisa membuka pemikiran saya kalo “Fotografi tidak bicara soal seberapa canggih dan mahalnya kamera kita, tapi fotografi itu bicara soal bagaimana kepekaan kita untuk melukis dengan keajaiban cahaya.” dan di kenalkan lah saya dengan yang namanya Kamera Lubang Jarum (Pinhole Camera) ini.

Sampai saat ini saya masih suka dilibatkan untuk menjadi salah satu instruktur atau pengajar di setiap workshop kamera lubang jarum dan selayaknya sales-man saya selalu menawarkan orang-orang untuk ikut workshop dengan dalih “Yuk! ikut workshop kamera lubang jarum, bikin kamera sendiri dan develop sendiri” dsb. Setiap orang yang ikut workshop selalu berpikiran bahwa motret dengan kamera lubang jarum itu karena unik dan tentunya “MURAH“.


Tidak lama ini harga untuk mencuci / develop sebuah roll film 35mm di jasa pencucian daerah kebayoran lama naik lagi hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Iya, dua bulan lalu saya kesana, untuk mencuciย + scanย satu buah roll film 35mm di hargai Rp 25.000 dan sekarang naik Rp 10.000 jadi Rp 35.000. Belum lagi roll film nya sendiri pun sudah naik lagi. Fuji film superia yang terakhir saya beli dengan harga Rp 14.000 sekarang naik menjadi Rp 20.000. Padahal harga sebelumnya udah cukup untuk menghabiskan uang jajan bulanan, apalagi yang sekarang ini.

Kalau untuk kalangan tertentu seperti teman-teman KLJI jarang sekali mencuci hanya satu roll film saja, biasanya 3-5 film bahkan lebih karena stock untuk satu bulan di cuci scan pada waktu yang bersamaan. Coba bayangkan, Rp 35.000 x 5 saja udah Rp 175.000. Kalau setahun? dua tahun? Itu untuk yang roll film, coba kalau yang menggunakan media rekam kertas foto emulsi di tambah dengan beban harga chemical yang kembali naik tiap tahunnya. Kertas foto emulsi saat ini dipatok dengan harga Rp 110.000/pack dan chemical yang terdiri dari superbroom dan acifix dipatok dengan harga Rp 35.000.

Coba kalkulasi kan semua pengeluaran itu dalam kurun waktu setahun atau dua tahun. Terkumpulkah uang untuk membeli sebuah kamera dslr? Jawabannya iya. Masih kah berpikir kalo main kamera lubang jarum itu Murah? Tentu saja tidak.

Dan untuk apa semua ini…
Kemarin saya sempet ng’tweet renungan saya ini di twitter dan ada yang menarik perhatian saya. Yaitu dari Kang Cakpii, Kesimpulannya, pinhole itu tidak bisa kita lihat dari sisi harga dan kualitas gambar. karena harga itu adalah konsekuensi pilihan kita. pilihan kenapa kita memilih pinhole untuk menjadi ruang untuk merekam dan melukis dengan keajaiban cahaya. Tapi, pinhole bisa didekatkan dari sisi sejarah foto, seni proses atau bahkan sebagai dasar dari tekhnik fotografi.

Dan kalo kata si Kang Willi, justru karena main kamera lubang jarum itu Mahal, kita harus lebih selektif saat memotret. Layaknya seorang pelukis yang melukis di atas kanvas yang sama mahalnya saat akan menciptakan suatu maha karya. Jadi, lukis dan ciptakan maha karya mu dengan kamera ciptaanmu!

Mahal nya chemical, roll film, kertas foto dan chemical sama sekali tidak menyurutkan semangat ini untuk selalu menciptakan karya-karya dengan kamera ini! kamera bikinan gw sendiri..
Lalu, akankah kedepannya akan move on ke digital? Mungkin saja.

15 comments On Sebuah renungan dan untuk apa semua ini

  • bahkan itu belum seberapa mahal dibandingkan dengan orang-orang yang memotret menggunakan kamera large format. untuk film saja mereka harus beli film 4×5 yang susah menemukannya dijual di pasaran lokal, jadi lebih banyak memesan dari luar.
    toh pada intinya kembali lagi kepada niat kita…
    apakah hanya sekedar ‘jepret’, sekedar ‘coba-coba’ , atau cuma sekedar penasaran..
    jika sekedar ‘jepret’, tak ada bedanya dengan saat kita menekan tombol shutter kamera lainnya tanpa memikirkan apa yang harus kita jepretkan.
    tanpa memikirkan apa yang akan kita foto, tentu saja terasa mahal.
    dan sama halnya dengan pelukis yang dibahas penulis… pelukis juga memikirkan apa yang ingin dilukisnya, tidak asal, karena jika tanpa memikirkan apa yang akan dilukiskannya, tentu saja akan mahal baginya karena harus membuang kanvas dan cat yang disia-siakan.

    • iya kang, jadi yang harus dilakukan sekarang adalah “Selektif saat memotret”. Agar foto yang di hasilkan benar-benar menjadi sebuah maha karya yang mempunyai nilai tinggi.

  • pada intinya, kamera sebagai media kita merekam gambar, apapun itu jenisnya tak harus membatasi dalam menghasilkan karya.. lakukanlah dengan alat-alat yang dimiliki, kalaupun memang harus menggunakan alat lain yang tidak dimiliki, mungkin bisa meminjamnya terlebih dahulu..
    jadi kalo ditanya kamera yang bagus, ya kamera yang kita miliki sekarang, bukan kamera yang canggih, tapi belum mampu dimiliki ๐Ÿ˜›

  • semangaaaaaat. pake kamera yang mana aja yg penting sukses dan tetep bikin happy! ๐Ÿ™‚ hahaha

  • lucu banget deh. Udah namanya Cakpii, masih juga dipanggil Kang :)))
    orangnya inspiratif sih. saya pernah kenalan waktu di Lasem

  • kalau saya sendiri emang seneng ngedit foto, maka dengan pasti kalau saya di posisi tersebut akan mantap memilih kamera digital ๐Ÿ™‚

  • Yang penting hati senang dan gak gelisah… pake kamera apa aja tetap top deh mas.

  • Karena alasan harga juga lah saya pun masih tetap setia dengan apa yang ada saja. kebetulan saat ini menggunakan camera handphone. soalnya prinsip yang saya anut adalah man behind tool. salam ๐Ÿ˜›

  • yang paling nyaman menurut kamu aja sih ๐Ÿ™‚

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.