Sanggar HPPL: Surga yang tercipta dari kejam nya Jakarta

“Dulu, tahun 2009, kampung kita konflik sama kampung seberang rel. Wah, apa saja kita ributin. Mau bola, cewek, dan lain-lain. Tapi saya mikir, ini nggak bisa nih gini terus. Harus ada yang diubah. Makanya kita bikin lah HPPL ini” – Bang Sabda

Hari minggu kemarin, Alhamdulillah, lagi-lagi saya dipercaya untuk jadi mentor kamera lubang jarum oleh Mas Anwar dan kawan-kawan Sekolah Raya di Sanggar Himpunan Pemuda Peduli Lingkungan (HPPL), Menteng. Sanggar yang dibangun tahun 2009 di tanah yang kurang lebih seluas 500m ini berada di samping rel kereta deket Tugu Proklamasi, untuk memasukinya kita perlu menunduk sambil melewati lorong rel kereta nya terlebih dahulu sebelum sampai ke lokasi.

Sanggar ini terbentuk akibat rasa cemas dan kekhawatiran pada generasi-generasi penerus di lingkungannya yang dulunya tidak jauh dari tawuran, drugs dan hal negatif lainnya. Sanggar ini terlihat biasa saja, hanya seperti pondok kecil dan taman bermain yang hanya memiliki rak-rak buku yang berjejer disetiap sudut ruangannya, mungkin karena tidak ada sentuhan pemerintah daerah. Eh, kenapa juga disebut, mana mungkin mereka peduli. Oops.

HPPL ini terus hidup karena dukungan warga sekitar, banyak orang tua disana malah senang anak-anak nya bermain disini, jelas karena disini kalau nggk belajar yaa bermain yang positif. Maka dari itu banyak warga sekitar yang mendukung dan ikut menyumbang buku baca, uang bahkan sekedar gorengan untuk menemani kegiatan sanggar ini.

Saya beruntung bisa datang ke tempat seperti ini, berbaur sambil belajar dengan anak-anak kecil yang begitu polos, nakal dan lincah seperti mereka. Melihat sudut pandang kehidupan dari orang-orang yang baru saya temui. Dan tentunya merasa bangga pada orang-orang seperti Bang Sabda yang berani mengubah.

2 comments On Sanggar HPPL: Surga yang tercipta dari kejam nya Jakarta

  • Saya merasa kalau hidup di Jakarta itu (sangat) keras. Mungkin karena itu masalah sedikit bisa memicu konflik. Adapun hidup yang keras dan penuh tekanan membuat kreativitas sulit berkembang.

    Kegiatan yang kalian lakukan di Sekolah Raya di Sanggar Himpunan Pemuda Peduli Lingkungan ini positif sekali. Semoga saja, kelak saat anak-anak ini beranjak dewasa mereka akan mendayagunakan kreativitas yang kalian ajarkan untuk menyiasati hidup yang keras ini dan tidak lagi menyelesaikan apapun dengan kekerasan. 🙂

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.