Membumikan kembali tradisi bangsa dengan seni rajah

Malam kemarin jalanan ibu kota terasa cerah dengan suhu seperti biasanya, panas. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hampir selalu diselimuti hujan. Terlihat beberapa frame karya foto menggantung disepanjang jalan, juga beberapa lapak merchandise yang diperjual belikan dengan lampu-lampu jalanan yang menghiasi trotoar, tepatnya disebrang Stasiun Cikini atau yang lebih kita kenal sebagai Galeri Jalanan Bautanah.

Suasana Jalanan Cikini saat acara NEKROKULTURA
Suasana Jalanan Cikini saat acara NEKROKULTURA

Sejak tanggal 16 Januari lalu, Galeri Jalanan Bautanah dan Bautanah Tattoo Museum mengadakan sebuah acara yang bertajuk “NEKROKULTURA”. Sebuah acara yang mempersembahkan Seni Tradisi dari berbagai elemen, katakanlah Handtapping Tattoo, Gelar Karya Foto dan Pertunjukkan Seni Tradisional.

[blockquote source=” Bang Refi”]Sebelum Agama dan Negara diterima di Tanah ini, Tato sudah jadi bagian terpenting dibeberapa Suku Bangsa di Indonesia[/blockquote]

Seperti yang kita tahu, Indonesia memiliki lebih kurangnya 300 kelompok etnik dan 1.340 suku bangsa. Maka tidak heran bahwa tidak banyak yang tahu tentang Tato yang sudah menjadi tradisi banyak suku di Indonesia. Contohnya adalah Masyarakat Kepulauan Mentawai yang sejak tahun 53 SM masyarakat disana sudah mengenal Seni Rajah tubuh. Dan dalam masyarakat ini, Tato memiliki kaitan erat dengan sistem kemasyarakatan, sehingga tidak heran setiap penduduk suku asli Mentawai memiliki belasan Tato di sekujur tubuhnya.

Ranu Khodhir - Artist Tattoo
Ranu Khodhir – Artist Tattoo

Di acara NEKROKULTURA pun, salah satunya ada Performance dari beberapa Artist Tato yang mempraktekkan Tato Tradisional on the spot dengan tekhnik Handtapping, katakanlah Bang Ranu Khodir yang terlihat bersahabat ketika saya menghampirinya.

Berdo'a dan prepare sebelum merajah
Berdo’a dan persiapan sebelum merajah
Proses merajah dengan tekhnik handtapping
Proses merajah dengan tekhnik handtapping
Proses merajah dengan tekhnik handtapping
Proses merajah dengan tekhnik handtapping
Proses merajah dengan tekhnik handtapping
Proses merajah dengan tekhnik handtapping

“Tak.. Tak.. Tak..”

Begitulah kira-kira suara yang dihasilkan saat Bang Ranu ‘bermain’ dengan dua buah tongkat yang salah satunya memiliki sebuah paku berdiameter 2mm yang terlihat semakin bawah semakin runcing dibagian ujung tongkatnya. Sesekali Bang Ranu mencelupkan ujung paku tersebut ke sebuah balok kayu yang terdapat “Tinta hitam”. Sayangnya saya kurang paham jenis tinta apa yang dipakai.

Stick Handtapping Tattoo yang digunakan sebagai alat merajah
Stick Handtapping Tattoo yang digunakan sebagai alat merajah

Dua Jam saya menghabiskan waktu disana, menikmati malam ditengah Ibukota, bertemu kawan-kawan yang sudah lama tidak bertegur sapa, belajar hal baru dan pada akhirnya menyadarkan saya satu hal:

“Indonesia itu luas, memiliki ribuan Pulau, Suku, Bahasa, Tradisi dan mungkin juga kepercayaan. Tapi, kenapa kita yang sering mamatikan dan menampik itu semua. Orang ber-tato kerap dipandang sebelah mata, Orang berbahasa Madura ditertawai karena logatnya dan Orang yang berbeda agama dimusuhi, padahal kita berasal dari tanah yang sama. Tapi justru dengan meng-adopt budaya Negara lain malah dianggap lumrah. Ini aneh kan?”

2 comments On Membumikan kembali tradisi bangsa dengan seni rajah

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.