DIY Fotografi, Kemajuan atau Kemunduran?

Abad 20 ini mungkin adalah abad terbaik dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam hal teknologi. Baik itu teknologi berupa software maupun hardware. Kita bangsa Indonesia yang jelas perannya hanya sebagai konsumen pun turut menjadi saksi, terbukti disetiap peluncuran produk-produk terbaru dari luar, pasti saja langsung menjadi trending topic dikalangan masyarakat, dari mulai teknologi baru berupa gadget, kamera digital atau yang belakangan ini sedang hits, wearable technology.

[blockquote source=”Ray Bachtiar Dradjat”]Semakin canggih suatu teknologi, maka akan semakin menghilangkan seni proses didalamnya. Sehingga kebanyakan dari kita, lebih memilih memakai daripada mencoba untuk ingin tau.[/blockquote]

Dalam hal ini saya ingin meluruskan terlebih dahulu, saya sama sekali tidak anti-digital, gimana mau anti-digital kalo keseharian saya harus berkutat dengan itu semua? Saya sudah berjalan dibidang DIY lebih dari 3 Tahun, terutama dalam bidang DIY Fotografi. Berbagai macam bentuk, jenis, bahan telah saya ciptakan menjadi sesuatu yang kita kenal dengan kamera lubang jarum, DIY Scanner Smartphone dan belakangan ini saya pun mencoba untuk membuat Lightmeter menggunakan Arduino dan inovasi semi-auto pinhole camera (On Progress).

! 140320151605

Bagi beberapa orang, semua yang saya lakukan selama ini adalah suatu kesia-sia’an. Karena apa? Karena, Teknologi kamera digital sudah terlalu jauh untuk kita kejar jika hanya dimulai dari kamera lubang jarum. Dan Lightmeter, alat ini udah terlalu basi, handphone seharga 150ribu pun udah bisa kalau hanya ingin mengukur Exposure Value. Jadi buat apa? Jelas ini kemunduran bagi umat manusia.

DIY Scanner Smartphone

Awalnya, saya nyaris setuju dengan pendapat seperti itu, tapi itu dulu, jauh sebelum saya benar-benar bergelut dibidang ini. Saya tidak ingin membahas DIY itu sebagai bentuk “kreatifitas”, karena sudah jelas kreatifitas tidak terlalu berguna bagi perkembangan teknologi, melainkan Inovasi.

Kita harus sadar peran Indonesia ada dimana, jika orang-orang Jepang dan Eropa sana membuat suatu alat DIY mungkin karena Hobby atau rasa penasaran saja. Tapi, bagi kita bangsa Indonesia, ini adalah suatu bentuk kemajuan karena kebiasaan kita yang sudah mendarah daging, membeli sesuatu tanpa ingin tau “Kenapa dan Bagaimana” alat itu bekerja, sehingga pada akhirnya kita akan terus menjadi negeri yang cenderung konsumtif.

DIY mungkin tidak sesempurna alat yang diciptakan industri, tapi bagi Indonesia, DIY adalah langkah maju, setidaknya untuk mengurangi kebiasaan membeli dan mungkin pada akhirnya kita akan mampu mengembangkan alat tersebut menjadi lebih canggih dan diproduksi dengan label “Made in Indonesia”. Mungkin kah? Jelas mungkin. Apakah ini kemajuan? Jelas iya, karena teknologi yang ada dijaman sekarang, sebagian besar diciptakan orang luar, bukan Indonesia.

Lalu, semua itu bukanlah sesuatu yang mudah. Tentu harus banyak peran yang turun mendukung. Untungnya sekarang mulai banyak organisasi-organisasi penyedia wadah untuk para innovator yang ingin mengembangkan startup-nya. Katakanlah, MakeDoNia yang sejak awal memang konsisten untuk membantu siapapun yang ingin bergelut dibidang DIY, sama halnya dengan CrazyHackerz yang sudah menciptakan perangkat-perangkat DIY dengan teknologi kekinian.

 

Lalu, peran yang harusnya mendukung juga adalah Pemerintah. Bukannya malah mempersulit, seperti belakangan ini yang sedang ramai. Bapak lulusan SD yang merakit TV dari tabung monitor bekas dan DITANGKAP karena katanya nggk punya izin. Haa? Jujur saya nggk tau harus ngomong apa. hehe

Nahh.. itu sih pendapat saya. Jadi, menurut kamu, DIY itu kemajuan atau kemunduran? 😉

1 comments On DIY Fotografi, Kemajuan atau Kemunduran?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.