Sarewu Merak Tandang: Mengepakkan keindahan, meluruskan kesalahpahaman

Pada tanggal 13 Desember kemarin, Kota Bandung menjadi sejarah baru bagi penggiat atau pelaku Tari Merak di Indonesia. Karena, dalam rangka memperingati 50 tahun Tari Merak yang notabene merupakan salah satu tarian kebanggan Jawa Barat, Kota Bandung dipilih untuk menjadi tempat terselenggaranya Pentas Akbar Sarewu Merak Tandang, dimana para penari dari berbagai daerah berkumpul dalam satu tempat untuk unjuk gigi dengan memeragakan tarian merak bersama ribuan peserta lainnya.

Bagi saya, Sarewu Merak Tandang merupakan acara yang tidak sekedar ingin menunjukkan dan mengukuhkan bahwa Tari Merak adalah milik rakyat Jawa Barat. Lebih daripada itu, mereka ingin ‘meluruskan jarum yang bengkok’ alias mengkoreksi sejarah yang selama ini simpang siur, salah dan terkesan dibiarkan. Karena, artikel-artikel yang tersebar di dunia maya dan pendapat umum lainnya, termasuk para pelatih tari merak sekalipun banyak yang salah kaprah tentang sejarah tarian ini. Mungkin karena jaman teknologi yang serba instant, semakin memudahkan orang untuk menduplikasi –copas– data yang belum tentu benar adanya, lalu tanpa pikir panjang dijadikan acuan pembelajaran yang menjadikan Tari Merak ambigu dan tidak jelas kepastiannya. Bahkan, situs seperti Wikipedia pun banyak menghilangkan tokoh penting dalam pendeskripsian tarian yang satu ini.

Dari sekian banyaknya tarian yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, mungkin tari Merak ini merupakan tari yang terkenal di Indonesia dan luar negeri. Wikipedia

Pertanyaannya, kemana nama Tb. Oemaj Martakusuma? kemana nama Irawati Durban Ardjo sosok hidup yang menciptakan inovasi terbaru dari Tari Merak seperti yang kita kenal sekarang ini? Bahkan ada satu artikel yang menulis tentang “10 Macam Tarian Tradisional Jawa” dimana terpampang foto Tari Merak Jawa Tengah yang sama persis dengan Tari Merak Ibu Irawati.

sarewu merak tandang - onrust pinhole r13 - 2
Sarewu Merak Tandang – Onrust Pinhole R13

 

“Setau saya, setelah kutak katik data dan wawancara, Tari Merak awalnya merupakan kreasi Tb. Oemaj Martakusuma dan Tjetje Somantri yang disuguhkan saat Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung. Namun tarian yang menggunakan properti sayap a la Leonardo da Vinci itu hanya digelar sebanyak 3 kali pertunjukkan. Selanjutnya tahun 1965 Tari Merak bersayap diubah oleh Irawati dengan menghilangkan properti sayap yang kaku lalu diganti menjadi Tari Merak menggunakan selendang lentur yang berfungsi sebagai ekor merak, bukan sayap. Karena kenyataannya memang ekor meraklah yang mengembang bukan sayapnya, kilah ibu Irawati menggaris bawahi inovasinya. Maka jelas, inti ide kreasinya pun sudah berubah.” – Ray Bachtiar Dradjat

Ini bukan sekedar perkara siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi yang seharusnya bisa diluruskan yaaaa ada baiknya kita luruskan. Karena takutnya, generasi mendatang hanya akan mengetahui apa yang mereka dengar dari orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu mengenal baik tarian ini dari sisi sejarahnya. Toh, pelakunya yang mengenal betul Tarian ini masih bisa kita tanyai, yakni Ibu Irawati Durban Ardjo.

Jadi, Tari Merak Irawati Durban inilah yang selama 50 tahun menyebar ke seantero penjuru panggung dalam dan luar negeri. Selama itu pula telah memberi kehidupan, kesenangan, manfaat dan kebahagiaan kepada banyak seniman tari di Nasional maupun Internasional.

Dari kegiatan ini saya pun belajar banyak hal, baik itu dari sisi sejarah tarian meraknya maupun pemikiran terbarukan yang mulai menyadari betapa bahayanya sembarangan menyebarkan ulang artikel-artikel yang belum jelas kebenarannya.

2 comments On Sarewu Merak Tandang: Mengepakkan keindahan, meluruskan kesalahpahaman

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.