Buku Bajakan: Keabsahan ilmu pengetahuan dari pelanggaran yang dilumrahkan

Buku adalah jendela dunia, membaca adalah kuncinya. Mungkin kalimat itu sudah kita kenal dengan baik bahkan terpatri dalam ingatan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Hampir setiap guru selalu menanamkan pada murid-muridnya untuk belajar mencintai dan gemar membaca buku, tentu karena kesadaran betapa pentingnya membaca untuk bekal murid-muridnya kelak, dan yaa.. jelas penting walau pada saat itu bagi saya hanya sebatas omong kosong, karena kepolosan masa kecil yang cuma tau kalo main kelereng adalah hal yang lebih menyenangkan.

Berbeda halnya dengan masa kecil, sejak 4 tahun ini saya mulai tertarik dengan yang namanya buku, dibilang gemar membaca sepertinya berlebihan, hanya saja belakangan ini memang bisa dibilang lagi sering membaca karena lebih banyak waktu luang dibanding sebelum-sebelumnya. Ketertarikan ini mulai tumbuh ketika saya menyadari kalau ada bagian-bagian dari buku yang telah saya baca, mampu mempengaruhi perkembangan saya pada saat itu, baik itu pola pikir, cara pandang ataupun pengetahuan yang sudah jelas akan selalu bermanfaat dan berguna. Kalau tidak salah ingat, buku pertama yang saya lahap habis itu berjudul: How to influence and win friends, yang tentu versi terjemahannya.

Buku Bajakan

Lantas, jika buku merupakan jendela dunia. Lalu, bagaimana dengan buku bajakan? Apakah dunia yang kita lihat pada buku bajakan berbeda dengan dunia pada buku aslinya? Tentu tidak kan?

Jujur saja, pada mulanya saya tidak terlalu memikirkan, bahkan tidak tau cara membedakan buku asli atau bajakan. Hingga sekarang pun saya masih sering kali membeli buku-buku bajakan di Palasari Bandung, alasannya sudah jelas: Harga murah adalah Harga mati. Kualitas fisik memang berbeda, toh isinya tetep sama (?) walau pernah sekali-kali dikecewakan dan mengutuk karena terkadang ada urutan halaman yang tidak sesuai atau malah ada 1-2 halaman yang hilang. Terbayang kalau penulisnya sampai tau, mungkin bakal ketawa kecut sambil bilang: “Siapa suruh buku karya gue dinikmati dalam kertas haram?” dan yaa, Itu resiko kami.

Bukan hanya kami, para pemuda yang minim uang jajan karena harus bayar kebutuhan sana-sini, toh saya masih sering lihat para pustakawan pun melakukan hal yang sama. Tidak sedikit perpustakaan daerah maupun perorangan memiliki buku bajakan, alasannya tentu saja sama. Harga buku asli yang relatif masih mahal, apalagi terbitan luar. Sehingga para pustakawan yang dituntut untuk memiliki lebih dari satu buku dengan judul yang sama, mau tidak mau yaa harus menduplikasi atau membeli bajakannya. Iya lah, jauh lebih murah..

Mengingat pola pikir kita saat ini yang menjadikan buku bajakan merupakan pilihan terakhir untuk tetap dapat melihat dan mengenal dunia, belakangan ini otak saya selalu dipenuhi pertanyaan…

[blockquote source=””]

Apakah buku bajakan itu haram untuk dibeli ataupun dibaca? Apakah buku bajakan itu ‘benar-benar’ dilarang dan ditentang oleh hukum di negeri ini? Apakah keabsahan ilmu yang kita dapat dari buku yang telah kita baca itu tidak sah karena didapat dengan cara yang salah?

Ahh yaa.. pertanyaan yang tidak kalah mengganggu…

Apakah setiap penulis buku sudah tau akan selalu ada pembajakan dari karya-karyanya yang dijual bebas tanpa ketentuan yang seharusnya? Dan mereka tetap melumrahkan hal itu?

[/blockquote]

Kalau bicara soal undang-undang, tanpa saya sebutkan pun kita sudah jelas tau ada ketentuan yang mengatur tentang HAKI. Tapi toh saya jamin, buku bajakan tidak pernah lepas dari salah satu opsional ketika kita berada dalam keadaan mendesak saat mencari buku. Mungkin yang dirasa perlu untuk diperhatikan adalah faktor etika yang tidak menghargai para penulisnya, dan maafkan untuk itu.

Nahh, lalu bagaimana dengan para penulis? Apa setiap penulis merasa bahwa karya-karyanya adalah sumbangan dari hatinya untuk dunia? Dan ia merasa perlu untuk menyebarluaskan pemikiran dan pemahamannya melalui karya ke semua orang, terlepas dari cara apapun ia mendapatkannya (termasuk dari buku bajakan). Kalau iya, beruntunglah kami. Tapi bagaimana kalo mereka tidak pernah meridhoi? Sah dan manfaatkah ilmu pengetahuan, ketakjuban dan pemahaman yang kami dapat dari karya-karyanya melalui buku bajakan? Ahh.. yaa, dilema.

Koleksi buku yang selama ini saya kumpulkan memang rata-rata asli, hanya beberapa saja yang berlabel buku bajakan. Tapiiiii, meskipun saya telah memikirkan tentang apa yang sudah saya utarakan diatas, jujur saja, sepertinya saya belum akan menjadi manusia suci dan idealis dengan harus selalu membeli buku asli. hehehe…

[well]Feature image by: The book craft[/well]

4 comments On Buku Bajakan: Keabsahan ilmu pengetahuan dari pelanggaran yang dilumrahkan

  • Bener banget deh, dilema. Rasanya serba salah, antara enggak enak sama sang penulis, tapi apa daya, penerbit pun juga udah jarang menerbitkan, susah sekali dapetnya. eh dapetnya yang bajakan, harga miring banget pula. hehe.

  • Buku bajakan. Di satu sisi, beli bajakan sama juga mencurangi. Di sisi lain, jika ilmu bermanfaat dari buku bajakan yg kita dibaca dipraktikkan, si penulis insyaAllah dapat juga pahalanya. Jadi, gimana dong? *lha kok jadi ikutan dilema?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.