Tegal Panjang: Antara Indahnya Savana, Derasnya Hujan dan Usilnya Babi Hutan

Hestek #AkhirnyaLiburanJuga sepertinya akan jadi pembuka yang pas untuk tulisan gue yang satu ini. Setelah sekian lama gak jalan-jalan dan juga apdet blog, sepertinya perjalanan kemping gue ke Tegal Panjang yang kemaren cukup buat naikin mood buat nulis di blog kesayangan yang udah mulai berdebu ini, halah.

Libur panjang kemaren, Alhamdulillah akhirnya gue bisa ikutan kayak orang-orang buat berlibur juga. Setelah rencana awal yang niatnya mau piknik ke Papandayan bareng temen-temen kampus DIBATALKAN, gue putusin untuk tetep berangkat karena memang udah bener-bener niat dan kepengen banget liburan, jadi setelah nyari info ke temen-temen yang biasa ngetrip, nemu lah yang destinasinya cocok dan gak jauh juga dari Papandayan, yang rencana awalnya mau ke sana.

Tegal Panjang Via Pengalengan

Tegal Panjang, begitulah tempat ini dikenal. Sebuah savanna yang katanya menawarkan keindahan melalui hamparan ilalang, liukan permukaan dan tentunya latar belakang Gunung Papandayan. Tegal Panjang termasuk destinasi naik gunung yang baru di telinga para pendaki, karena aksesnya memang masih dibilang sulit, bukan perihal jauh atau dekat ataupun ekstrim atau tidak, tapi jalur kesana masih belum banyak yang terbuka, sehingga memang sulit kalau tidak tau jalan, alih-alih mau kemping, malah muter-muter karena nyasar, kan nda lucu (?)

Akses menuju Tegal Panjang sendiri sebenarnya ada 2 jalur alternatif yang bisa kita gunakan, bisa lewat Garut yang artinya harus lewatin dulu Gunung Papandayan dan setelah itu baru bisa ke Tegal Panjang, atau bisa lewat ke Pengalengan. Kalau gue, kemaren lewat Pengalengan karena aksesnya bisa dikatakan jauh lebih dekat dan mudah.

Angkot Pengalengan
Angkot Pengalengan

Gue berangkat jam 6 pagi dari Terminal Tegalega Bandung naik mini elf jurusan Pengalengan, ongkosnya Rp 20.000 / orang. Setelah semua perlengkapan berat semacam carrier diikat di atas elf, kita pun berangkat perlahan, karena maklum, elf biasanya nunggu 3/4 penuh dulu, dan sisanya ngangkutin di perjalanan. Dan sekitar jam 9.15 kita sampe lah di Terminal Pengalengan, tujuan akhir si elf. Selanjutnya yang kami lakukan adalah nyari kendaraan menuju Desa Cibutarua, Pos pertama yang harus kita tuju untuk bisa melanjutkan perjalanan ke Tegal Panjang. Kendaraan yang kami gunakan adalah angkot, karena kalo naik kendaraan umum memang agak ringkih, harus ikut bis yang biasa ngangkut barang belanjaan. Jadi, kami putuskan untuk memborong satu angkot, di sini kita harus jago nawar kalo nggk mau terlalu mahal, biasanya orang-orang dapet harga sekitar 300-350 ribu, tapi kami cuma dapet Rp 200.000/angkot untuk sekali jalan dan bisa dipakai untuk 6-8 orang. Berangkaattt!

Untuk yang butuh angkot Pengalengan-Cibutarua Pak Omar - 0823-3722-4582

Perjalanan dari Terminal Pengalengan menuju Desa Cibutarua membutuhkan waktu sekitar 2 Jam perjalanan, bukan karena jauh sih, tapi akses menuju sana memang terbilang ancur-ancuran jalannya. Bebatuan terjal yang memaksa setiap kendaraan hanya bisa nge-gas 10-20 km/jam. Tapi demi liburan mah, apapun abang lakuin deh. Hihi..

Masjid Al-Hikam, Desa Cibutarua
Masjid Al-Hikam, Desa Cibutarua

Sekitar jam 11.20, kami sampe di Desa Cibutarua dan langsung menuju pos untuk melapor, dan tentu prepare ulang sambil tanya-tanya kondisi cuaca dan akses menuju Tegal Panjang. Di Pos ini juga tersedia lahan parkir yang cukup luas, untuk motor dikenakan tarif Rp 15.000 dan mobil Rp 30.000, sepertinya tidak diwaktu, jadi kalo kamu seminggu di sana pun bayarnya tetep segitu. :p

Setelah semua siap, kami berangkat dengan perlengkapan masing-masing, kecuali gue yang harus bawa carrier titipan sebesar 85Ltr dan daypack gue sendiri ukurannya sekitar 40Ltr. Seger!!.

Kebun Teh - Cibutarua
Kebun Teh – Cibutarua

Perjalanan kita dimulai sekitar jam 12.40, ditemani rintikan hujan yang kami sepakat untuk memperkirakan akan turun hujan deras dalam waktu dekat. Perjalanan awal memang bisa dikatakan mudah, kita hanya perlu menyusuri hamparan kebuh teh yang katanya telah menyesatkan ratusan orang untuk menuju Tegal Panjang, Haha. Beruntungnya, di kelompok kami ada yang udah survey terlebih dahulu, jadi untuk rintangan awal ini bisa dikatakan cemen. Kecuali.. Hujan!

Pas nemu pohon di tanjakan ini, ambil kiri yah!
Pas nemu pohon di tanjakan ini, ambil kiri yah! Jangan lurus.

Baru sekitar 1 jam kita jalan, hujan turun cukup deras. Kita pun bergegas menuju titik check point pertama, Pintu Hutan. Kalo kita sudah menemukan pintu hutan, bisa dikatakan aman. Karena kebanyakan orang nyasar muter-muter di kebun teh untuk menuju ke sini. Di pintu hutan ini pun masih ada satu warung yang bisa kita gunakan untuk istirahat dan melepas lelah juga dahaga, kebetulan waktu itu hujan cukup deras, jadi perjalanan kami terhambat sekitar 30 menit untuk menunggu sedikit reda sambil menikmati gorengan.

????????????????????????????????????
Pintu Masuk Hutan.

Sekitar jam 14.30 kami melanjutkan perjalanan walaupun hujan masih bisa dikatakan deras. Kami tidak bisa menunggu lebih lama, karena takut kemaleman. Gassss!

Setelah melalui pintu hutan, kita bener-bener memasuki yang namanya hutan, (iya lah yaaaa, masa masuk mall). Akses jalannya bisa dikatakan cukup jelas, tinggal ngikutin jalan setapak yang biasa orang-orang pake. Hujan masih saja turun, perjalanan kami sedikit mengalami peningkatan kesulitan, pijakan yang licin dan becek terpaksa melambatkan langkah kaki kami untuk bisa lebih berhati-hati dalam melangkah, walaupun tidak mengherankan banyak yang pada akhirnya terjatuh juga, termasuk gue!

Perjalanan di hutan ini jalannya bisa dikatakan mudah, cukup banyak landainya, kita hanya harus naik turun sebanyak 3x dan melewati sungai kecil 3x, setelah itu landai sampai tujuan kami, Tegal Panjang. Kami sampai Tegal Panjang sekitar jam 18.15, sedikit molor dari waktu seharusnya karena memang kondisi jalan akibat hujan yang cukup mengganggu. Setelah istirahat sejenak sambil menunggu kelompok kami sampe semua, kami mulai mendirikan tenda.

Tidak banyak yang spesial di malam hari, ketika tenda sudah bisa dipakai, masakan pun telah dilahap tak tersisa, kami pun tidur sampai pada akhirnya teriakan di luar sedikit mengganggu kami: BABIIIII… AWAS BABIIII!!! AWAS BABIII….

Sebelumnya kita sudah diingatkan bahwa orang-orang yang berdatangan ke Tegal Panjang masih belum dapat menggeser hewan-hewan besar yang hidup di sana. Jadi sebenarnya tidak heran kalau ada babi hutan masuk ke kawasan perkemahan. Setelah terdengar teriakan itu, gue mah tetep woles sambil mencoba buat tidur lagi, tohh di tenda gue tidur ber-empat, di tengah pula, jadi kalo pun itu babi masuk, setidaknya yang teriak duluan karena keinjek atau dipeluk itu babi, pasti temen gue yang di sebelah duluan, aman lah yaa. wkwk.

????????????????????????????????????
Sunrise Tegal Panjang

Sekitar jam 5 kurang, gue bangun dan langsung nyari kamera buat dipake hunting sunrise. Tapi, menurut gue sunrise di sini memang kurang asik gitu, karena memang terhalang gunung papandayan. Jadi cuma kebagian mega mendungnya aja. Tapi yaa tetep kereeen…

Tegal Panjang
Tegal Panjang

Setelah bikin kopi sambil ngebahas kejadian semalem, kami pun turun ke bawah untuk foto-foto. Ternyata di tenda bawah pun mengalami kejadian yang sama, malah lebih parah. Tenda yang mereka gunakan, salah satunya robek karena si Babi semalam. Entah harus ketawa atau sedih, nasi bungkus mereka pun ikut diambil dan dimakan di depan tenda mereka oleh si Babi. Dasar BABI! HAHA

????????????????????????????????????
Tegal Panjang

Tegal Panjang ini menurut gue sih super keren, selain pemandangannya yang luar biasa, Tegal Panjang pun masih tergolong bersih, bebas dari sampah yang dihasilkan oleh manusia sampah yang cuma pengen hepi-hepinya doang tapi pada gak punya otak. Semoga mereka-mereka ini gak pernah sampe ke sana deh –Loh kok jahat?–.

????????????????????????????????????
Sumber mata air Tegal Panjang

Untuk urusan mata air, Tegal Panjang punya sumber air yang bisa kita gunakan untuk reload persediaan air minum. Jadi, aman lah yaa.

Tegal Panjang
Tegal Panjang

Sekitar 2 jam kami habiskan untuk menikmati pemandangan dengan berfoto-foto ria, setelah itu kami sarapan dan langsung packing untuk bergegas pulang karena takut kehujanan lagi.

Tegal Panjang
Tegal Panjang
????????????????????????????????????
View dari Tenda – Jangan gagak fokus, please!

Sekitar jam 10.00, kami berangkat pulang menuju Pos Desa Cibutarua. Berbeda dengan ketika kami berangkat, saat pulang, perjalanan kami jauh lebih cepat karena hujan memang tidak terlalu deras ketika di hutan. Jam 11.45, kami sampe di Desa Cibutarua untuk istirahat dan mandi sebelum siap-siap pulang.

15-Tegal-Panjang

Menurut bapak-bapak yang menjaga di pos, setiap sumbangan dan tarif parkir, sebagian besarnya dimasukkan ke dalam kas masjid, jadi tidak heran kalau masjid di sana memiliki 4 kamar mandi yang cukup luas dan fasilitas yang memadai untuk para pendaki. Biasanya kamar mandi di masjid ini yang biasa digunakan para pendaki untuk bersih-bersih sebelum pulang. Jadi, kalau kamu mau ke Tegal Panjang, kotak amal di pos nya isi yang banyak yaaa! Hehe

Sekitar jam 4 sore, kami pulang dengan menggunakan angkot yang kemarin kami pakai, karena sebelumnya kami memang janjian untuk dijemput lagi ketika kami selesai kemping. Karena bakal susah lagi kalau nyari yang lain, harus nawar-nawar lagi. Ribet 🙂

Nah, segitu aja perjalanan gue buat ngisi libur panjang kemaren. Terus, Lo ke mana?

1 comments On Tegal Panjang: Antara Indahnya Savana, Derasnya Hujan dan Usilnya Babi Hutan

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.