Opini: Fenomena Relawan Pendidikan atau Melawan Pendidikan?

Tidak dapat dipungkiri, beberapa tahun belakangan ini gerakan kerelawanan semakin masif saja. Mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, hingga politik. (Kerelawanan di bidang politik?, sounds silly right?). Dan sepertinya, kerelawanan di bidang pendidikan lah yang paling laris manis. Bagaimana tidak? Dengan ‘menjual’ potret sarana pendidikan di pedalaman yang katanya sarat akan tangis dan air mata, mampu menggerakkan hati orang-orang untuk bahu-membahu mencoba menyelesaikan persoalan yang ada di sana.

Pertanyaannya, apakah gerakan kerelewanan ini tepat sasaran dan dibutuhkan? Sepertinya jawabannya akan menjadi relatif. Tergantung dari sisi mana kita melihat kehadirannya.

Sebetulnya apa yang dilakukan para pengajar dalam gerakan kerelawanan ini cukup kompleks dan menantang. Mereka bukan sekadar diminta untuk mengajarkan baca-tulis untuk anak-anak Indonesia di pedalaman sana, tetapi juga menaruhkan mimpi-mimpi serta mensejajarkan mereka dengan para pelajar di kota, sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan masing-masing. Dengan durasi yang cukup lama, mampu menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat dan diukur. Bukan sekadar sehari datang, kemudian cabut tanpa adanya keberlanjutan. Cabut tanpa adanya keberlanjutan? Emang ada? Banyakkk :)))

Melirik keberhasilan dari beberapa gerakan kerelawanan, mengantarkan banyak pemuda-pemudi Indonesia yang tergerak dan bergerak aktif di bidang kerelawanan pendidikan ini. Mungkin, kurang lebihnya disebut terinspirasi. Niatnya sudah tentu baik dan mulia. Namun, sepertinya dalam membuat sebuah gerakan kerelawanan bukan hanya membutuhkan niat baik dan mulia. Tidak semudah itu, utamanya untuk bidang pendidikan.

Kehadiran gerakan-gerakan yang terbilang spontan mungkin membantu, tetapi kiranya kurang tepat. Misalnya, gerakan mengajar satu hari di suatu tempat. Dengan bahan yang mungkin a la kadarnya, tanpa didampingi oleh ahli pedagogi ataupun pegiat pedagogi, kiranya hanya akan menjadi sebuah perjalanan wisata semata. Mungkin bagi para pesertanya akan merasa cukup berhasil dengan menunjukkan sebuah atau sealbum foto selfie dengan para murid seharinya. Dan kemudian pulang dengan riang gembira karena bisa berbagi bingkisan dengan para murid, atau mungkin membantu membuat perpustakaan, misalnya. Lantas apakah itu cukup dan berguna?

Jika yang disebutkan di atas tersebut dalam menjadi tolak ukur keberhasilan dari suatu gerakan, aku pikir sih tidak. Hahaha

“Education is about learning. If there’s no learning going on, there’s no education going on” – Ken Robinson, TED Speakers.

Mengajar merupakan profesi kreatif. Bila dipahami, mengajar bukanlah sebuah sistem meneruskan informasi, apalagi dengan pemikiran absurd untuk sekadar ingin eksis atau menaikkan popularitas hanya karena musim pilkada.

Mengajar adalah sebuah sistem yang harus bisa membimbing, menstimulasi dan memprovokasi murid agar MAU belajar dan dapat menerima apa yang diajarkan. Jika tidak ada yang dipelajari, maka sudah jelas semua yang kita lakukan sia-sia, karena tak ada yang kita ajarkan dan tidak ada dari anak-anak yang kita datangi jauh-jauh ini pelajari. Pointless.

Children are natural learners. There is no system in the world or any school in the country that is better than its teachers. Jika rasa ingin tahu itu adalah mesin menuju sebuah pencapaian, maka siapa yang harus bertanggung jawab untuk mengarahkan mereka dalam rasa curiosity-nya? Jelas gurunya.

Buat apa membuat sebuah perpustakaan –yang besar pun tidak, karena memang tidak banyak yang bisa dibawa– kalau anak-anak ini tidak kita stimulasi agar mau, penasaran dan ingin tahu lebih tentang perpustakaan itu sendiri? Apa hanya dengan ucapan, “Ini namanya perpustakaan. Di sini kalian bisa membaca buku-buku yang tersedia. Biar kalian pinter, biar pengetahuan kalian luas”. Kembali lagi, Menurutku tidak ada pelajaran yang bisa anak-anak ambil dan itu semua. Bagaimana mereka bisa benar-benar mencintai perpustakaan yang diciptakan, jika kita tidak bisa mengajari mereka cara mencintainya? Lalu siapa yang akan bertanggung jawab ketika buku-buku di perpustakaan yang  diciptakan berdebu dan dimakan rayap karena tidak ada yang merawat? Anak-anak yang ‘pernah’ kita didik dalam waktu singkat?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.