Opini: Konsep donasi buku bekas yang tidak bisa saya pahami

Menurut hemat saya, Buku adalah suatu elemen penting dalam setiap kehidupan umat manusia. Buku tidak akan pernah habis manfaatnya, bahkan jaman pun takkan mampu menelannya, Buku itu abadi. Manfaat buku tidak hanya berakhir ketika kita memahami dan menutup halaman terakhirnya  saja, terkadang kita harus membukanya kembali ketika sifat alami manusia yang bernama “Lupa” mulai sering menghujam sel-sel otak kita.

“Rich people have small TVs and big libraries, and poor people have big TVs and small libraries.” – Zig Ziglar

Donasi Buku Bekas, jujur saja konsep ini tidak sejalan dengan pemikiran saya, karena terbukti saya tidak pernah mendonasikan satu pun buku yang telah saya baca. Orang Indonesia itu cenderung sibuk mengisi rak buku orang lain, dibanding mengisi rak bukunya sendiri.

Jadi ingat perkataan teman saya Ijoong yang bilang begini “Kita itu terlalu royal dan mudah iba. Malah memanjakan orang lain, bukan malah membantu.” Statement itu terlontar ketika dia mulai menilai orang-orang yang lebih milih untuk kredit TV dibanding harus membeli buku. Yaaa, mungkin bener juga sih.

Sebagian orang mungkin berpikir, kalo dia mendonasikan buku-buku yang telah dia baca akan bisa lebih bermanfaat jika diberikan ke orang lain, tapi apakah tidak pernah terbesit pemikiran kalo kita akan punya keturunan yang mungkin lebih butuh buku-buku yang telah kita baca tersebut dikemudian hari?

Almarhum Kakek saya adalah pensiunan TNI AL dengan Pangkat Let.Kol, sampai dengan saat ini koleksi buku nya masih tetap terjaga dikediamannya di Purwakarta. Dulu beliau bilang, kalo mau baca-baca tentang sejarah Indonesia di medan pertempuran ambil aja yang menurutmu paling menarik, tapi HARUS dibalikin lagi ketempat semula.

Dulu saya spontan berpikir, “Sama Cucu sendiri aja, meuni harus dibalikin”. Sampai pada akhirnya saya sadar, bahwa setiap kita membeli buku, rasa memiliki sepenuhnya itu harus ada, ketika rusak atau hilang pasti akan menyisakan penyesalan yang mendalam, mungkin itu berlaku juga bagi Kakek saya. Karena, ketika kita sudah tiada, buku itu akan terus disimpan dan dibaca oleh orang-orang yang kita sayangi secara turun temurun. Bukankah itu lebih bermanfaat jika harus dibandingkan dengan memberikannya kepada orang lain yang belum tentu akan merawat buku tersebut seperti halnya yang akan dilakukan keturunan kita nanti?

Saya masih lebih setuju jika Buku yang di Donasikan itu buku baru, apalagi buku baru yang sebelumnya telah kita baca dan dirasakan manfaatnya. Jauh lebih banyak amalan yang akan kita dapat toh? Rak buku pribadi penuh dan rak buku orang lain pun tak kalah penuhnya. Indah kan? Lalu kenapa harus buku bekas?

Tapi, kembali ke sudut pandang masing-masing sih. Pasti ada yang sependapat dengan saya atau pun tidak. Dan yang berbeda pendapat, jujur saya ingin berdiskusi sama kalian dan belajar memahami hal ini dari sudut pandang kalian. Saya tidak mencari lawan debat ataupun kritikus, saya butuh teman diskusi. Hehe

Honestly, this is my humble opinion. Didn’t mean to offense or anything else.

16 comments On Opini: Konsep donasi buku bekas yang tidak bisa saya pahami

  • saya sepemikiran. kebanyakan temen saya juga gitu, hobi menuhin rak buku orang lain padahal rak buku dia….. kosong.

  • Kalau ada kegiatan donasi buku, bikin saya bingung harus nyedekahin koleksi perpus yg mana. Makanya suka beli buku baru buat didonasiin.
    Saya sih jadi hobi ngoleksi buku gara-gara terinspirasi pengen bikin taman bacaan.

    Duh itu pengen euy buku sejarah nasionalnya, tapi jauh di Purwakarta.

  • Biasanya menyumbangkan buku kalau memang beli dua. Atau kalau enggak, sengaja beli karena ingin disumbangin sih 🙂

  • Nggak pernah punnya konsep buku bekas juga, kalau mau nyumbang beli aja lagi atau kalau ada dua buku dengan judul yang sama baru deh dikasih~

  • good! makasih ya udah ngebuka pemikiran.. bisa dicoba lain kali klo ngadain donasi buku. “donasi buku baru, bukan buku bekas” 😀

  • inspiratif sekali,,

    mampir-mampirlah ke blog ala-ala gue di http://www.travellingaddict.com

  • Search twitter soal ‘donasi buku’, lalu tertarik dengan postingan ini.

    Aku nggak bisa bilang gak setuju sih. Cuma kayaknya persfektif kita berbeda ya Kak. Aku sih biasanya menyumbangkan buku bekas yang ada, bukan karena nggak asyik dibaca, cuma menurutku ‘mungkin kalau sama orang lain kerasa gede manfaatnya’. Kalau dibilang dihibahkan untuk anak cucu keturunan sih ya okelah… tapi membuat orang senang kan lebih bahagia. Aku tahu buku ensiklopedia bakal bermanfaat buat adikku, tapi aku malah lebih pilih buat nyumbangin ke adik-adik lain yang bahkan gak kukenal. Meski bermanfaat, tapi kalau adik aku gak suka baca, gimana dong?

    Aku sih mempercayai prinsip, saat ada buku yang masuk maka harus ada buku yang dikeluarkan. Selain alasan rak, hal ini juga bikin aku gak capek pas beresinnya. Yah, yang penting mah saat kita memenuhi rak buku orang lain, maka rak buku kita juga terpenuhi kan?

    • Hallo Syifaa, beberapa temen ku juga memiliki pemikiran yang nyaris persis dengan yang kamu utarakan lhoo. Balik lagi ke perspektif kita masing-masing yang ingin memilih jalur mana untuk menciptakan sesuatu yang lebih ‘bermanfaat’.

      Seperti yang aku jelaskan diatas, aku lebih memilih tidak menyumbangkan buku-buku yang aku miliki karena ‘rasa memiliki’ ku pada buku-buku yang telah aku baca bisa dikatakan tinggi. Akan ada cara yang jauh lebih bijak dibanding memberikannya kepada orang lain yang ‘belum tentu’ akan merawat buku itu seperti aku merawat buku-buku yang telah aku beli dengan susah payah. Karena bagiku, membeli buku itu nggk mudah, walau harganya murah sekalipun.

      Masalah ‘kapasitas Rak’ dan ‘dimakan rayap’ menurutku itu masalah personal, bukan masalah umum. Kalau kita bener-bener sayang, pasti dong selalu dibersihkan?

      Soal keturunan, Adikku pun sama. ‘Belum’ Hobi baca, tapi aku pikir Hobi bukan berarti ‘nanti’-nya tidak akan butuh kan? :)) Kembali lagi ke perspektif masing-masing sih.

      Senang berdiskusi sama kamu, Syifaa ^^

  • 🙂 buat saya sih ada beberapa buku yang “layak” jadi koleksi pribadi ada juga yang enggak, untuk buku-buku yang enggak masuk apalagi jenis majalah yang bisa “out of date” kalo gak berakhir di tukang kiloam bareng kardus2 dan koran yah kalo secara fisik masih bagus akan saya sumbangkan. Buat buku yang masuk kooleksi wajib kalau hilang saja serasa gak lengkap kalo gak beli lagi, gak bakalan mungkin disumbangkan 🙂

  • Setuju he he. Mungkin gw hoarder ato apa, tapi ada beberapa hal yang perlu di keep dan buku salah satunya. Makanya gw marah banget ke ortu pas mereka buang komik gw. Walau itu komik itu buku, orang bikinnya usaha dan ada pesan moral juga (kok ngelantur ^_^)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.